Buku Putih Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Posted by Admin pada September 26, 2009 www.belasalafy.wordpress.com. بسم الله الرحمن الرحيم Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Dari dulu hingga sekarang, perdebatan serta perbincangan seputar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah dan jalan dakwahnya, terus berkecamuk antara mereka yang pro dan yang kontra. Dan yang mengherankan dari dakwaan mereka yang kontra -yang melontarkan tuduhan-tuduhan kepada Syaikh- adalah: omongan mereka yang kosong dari dalil berupa bukti dari perkataan Syaikh atau tulisan beliau di dalam kitab-kitabnya, yang ada hanyalah tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang terdahulu, lalu ‘difotokopi’ oleh para pewaris mereka. Kami kira setiap orang yang obyektif sepakat bahwa jalan yang paling tepat untuk mengenal hakikat pemikiran seseorang adalah dengan cara kembali langsung kepada orang tersebut atau kepada referensi-referensi yang otentik. Alhamdulillah tulisan-tulisan serta ucapan-ucapan Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab -ed) sampai saat ini masih ada dan mudah untuk didapatkan. Dengan menelaah tulisan-tulisan tersebut, benar tidaknya isu-isu yang sementara ini tersebar di masyarakat akan terlihat. Adapun tuduhan-tuduhan yang tanpa bukti, maka ini bagaikan fatamorgana yang tidak ada hakikatnya. Di tulisan ini, kami akan memaparkan ucapan-ucapan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang kami nukil dengan penuh amanah dari referensi-referensi otentik yang menghimpun perkataan-perkataan beliau. Peran kami dalam buku ini hanyalah sebagai penyusun. Buku ini memuat jawaban-jawaban Syaikh sendiri, atas tuduhan-tuduhan utama yang dilontarkan ‘para lawan’ dakwah beliau. Kami amat yakin insya Allah dengan taufik dari Allah, tulisan ini akan cukup untuk menjelaskan al-Haq bagi mereka yang memang menginginkannya. Adapun mereka yang memusuhi dan menentang perjuangannya, yang tidak henti-hentinya menebarkan tuduhan-tuduhan dusta, maka kami katakan kepada mereka: ‘Sadarlah, karena sesungguhnya kebenaran telah jelas, agama Allah ta’ala akan menang dan cahaya matahari yang bersinar terang tidak bisa dihalangi dengan kedua telapak tangan.’ Perkataan-perkataan beliau dalam buku ini meluluhlantakkan tuduhan-tuduhan mereka. Jika mereka memiliki bukti dari perkataan beliau yang menguatkan tuduhan tersebut maka keluarkanlah dan jangan disembunyikan. Jika mereka tidak bisa mendatangkannya, maka kami menasihatkan, “Telusurilah jalan Allah ta’ala dengan hati yang bersih dari hawa nafsu dan kefanatikan terhadap suatu golongan. Mohonlah kepada-Nya agar Dia menunjukkan kebenaran lalu ikutilah kebenaran itu. perhatikanlah perkataan-perkataan beliau, kemudian renungkanlah; apakah beliau datang membawa ajaran baru yang tidak ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah? Kemudian renungkan kembali: Adakah jalan keselamatan selain dengan mengucapkan kebenaran serta membenarkannya? Jika telah datang kebenaran kepadamu maka terimalah dan ikutilah kebenaran tersebut; karena yang demikian lebih baik dari pada bersikeras dalam kebatilan. Hanya kepada Allah-lah semuanya akan kembali… Hakikat Dakwah Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Alangkah baiknya kami paparkan terlebih dahulu penjelasan singkat tentang hakikat dakwah yang beliau serukan. Karena hingga saat ini ‘para musuh’ dakwah beliau masih terus membangun dinding tebal di hadapan orang-orang awam, sehingga mereka terhalang untuk melihat hakikat dakwah sebenarnya yang diusung oleh beliau. Syaikh berkata, “Segala puji dan karunia dari Allah, serta kekuatan hanyalah bersumber dari-Nya. Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikan hidayah kepadaku untuk menempuh jalan lurus, yaitu agama yang benar; agama Nabi Ibrahim yang lurus, dan Nabi Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.Alhamdulillah aku bukanlah orang yang mengajak kepada ajaran sufi, ajaran imam tertentu yang aku agungkan atau ajaran orang filsafat. Akan tetapi aku mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, dan mengajak kepada sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diwasiatkan kepada seluruh umatnya. Aku berharap untuk tidak menolak kebenaran jika datang kepadaku. Bahkan aku jadikan Allah, para malaikat-Nya serta seluruh makhluk-Nya sebagai saksi bahwa jika datang kepada kami kebenaran darimu maka aku akan menerimanya dengan lapang dada. Lalu akan kubuang jauh-jauh semua yang menyelisihinya walaupun itu perkataan Imamku, kecuali perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau tidak pernah menyampaikan selain kebenaran.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/37-38). “Alhamdulillah, aku termasuk orang yang senantiasa berusaha mengikuti dalil, bukan orang yang mengada-adakan hal yang baru dalam agama.” (KitabMuallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/36). “Dan yang aku dakwahkan sebenarnya adalah: Kita tidak boleh menyembah kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana firman-Nya, فَلا تَدْعُو مَعَ اللَّهِ أَحَداً “Maka kamu janganlah menyembah seorang pun di samping menyembah Allah.” (QS. Al-Jin: 18) Allah ta’ala juga memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, قُلْ إِنِّي لا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرّاً وَلا رَشَداً “Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak ( pula)kuasa memberikan suatu kemanfaatan.” (QS. Al-Jin: 21) Inilah firman Allah ta’ala yang telah disampaikan dan diwasiatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita… Inilah yang akan menjadi hakim antara kalian dan diriku. Jika kalian mendengar tentang dakwahku selain yang kukatakan tadi, maka ketahuilah bahwa hal itu adalah dusta.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/90-91). Poin Pertama: Keyakinan Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Di antara tuduhan besar yang dilontarkan ‘musuh-musuh’ dakwah Syaikh kepada beliau dalam masalah ini adalah: 1. Beliau dituduh tidak meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup Para Nabi dan Rasul. Demikianlah tuduhan yang tersebar, padahal semua kitab karangan beliau telah membuktikan dustanya tuduhan ini. Di antara perkataan beliau yang membantah tuduhan tersebut: “Aku beriman bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup Para Nabi dan Rasul. Keimanan seseorang tidak dianggap sah hingga dia beriman dengan kenabian dan kerasulannya.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/32). “Orang yang paling bahagia, paling besar kenikmatannya dan paling tinggi derajatnya adalah orang yang paling setia mengikuti tuntunan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengamalkan ajaran beliau.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/21). 2. Beliau dituduh tidak memenuhi hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak memosisikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana mestinya. Untuk menjelaskan hakikat tuduhan ini, kami akan kutip perkataan Syaikh yang menjelaskan keyakinan beliau tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata, “Ketika Allah ta’ala berkehendak untuk menampakkan Tauhid dan menyempurnakan agama-Nya di atas muka bumi, serta meninggikan kalimat Allah dan merendahkan kalimat orang-orang kafir; maka Allah ta’ala mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para rasul dan kekasih Rabb alam semesta. Beliau senantiasa dikenal setiap masa, bahkan disebutkan pula dalam kitab Taurat Nabi Musa ‘alaihis salam dan kitab Injil Nabi Isa ‘alaihis salam. Hingga Allah ta’ala memunculkan mutiara tersebut di antara kabilah Bani Kinanah dan Bani Zahrah. Allah mengutus beliau di masa-masa terputusnya (pengiriman) rasul-rasul, lalu menunjukinya jalan yang lurus. Sebelum beliau diutus menjadi Rasul, telah tampak pada dirinya tanda-tanda kenabian yang tidak bisa ditiru oleh siapapun yang hidup di zamannya. Allahta’ala menumbuhkan beliau dengan sebaik-baiknya hingga menjadi orang yang paling mulia akhlaknya, paling tinggi budi pekertinya, paling tangguh kesabarannya, paling baik dengan para tetangganya, serta paling jujur tutur katanya, sehingga kaumnya menjulukinya sebagai al-amin (yang dipercaya); karena di dalam pribadinya terdapat perilaku yang baik dan sifat-sifat yang terpuji.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/90-91). “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin para pemberi syafaat, dan pemberi syafaat agung (di padang mahsyar), Nabi Adam ‘alaihis salam dan keturunannya kelak berada di bawah benderanya.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/86). “Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam, dan rasul yang terakhir dan yang paling utama adalah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Kitabad-Durar as-Saniyyah: I/143). “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalah kepada umatnya dengan sempurna dan menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Beliau adalah penasihat terbaik bagi para hamba Allah, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, berjihad dengan sebenar-benarnya di jalan Allah ta’ala, serta beribadah kepada Allah ta’ala hingga ajalnya tiba.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/21). Syaikh menjelaskan bahwa sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Salah seorang dari kalian tidak dianggap beriman hingga aku lebih dia cintai daripada orang tua dan anak-anaknya serta seluruh manusia”, menunjukkan akan wajibnya mengedepankan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamatas kecintaan kepada diri sendiri, keluarga dan harta bendanya. (Kitab at-Tauhid: hal. 108). 3. Beliau dituduh mengingkari syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikh menjawab tuduhan ini dengan berkata, “Mereka menuduh kami mengingkari syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Subhanallah! ini adalah kedustaan yang besar. Bahkan kami menjadikan Allah ta’ala sebagai saksi, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang diberi izin Allah ta’ala untuk memberikan syafaat dan pemilik syafaat agung (di padang mahsyar). Kami memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah agar mengizinkan beliau untuk memberikan syafaatnya kepada kita, dan semoga Allah ta’ala mengumpulkan kita bersamanya kelak.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/63-64). “Yang mengingkari adanya syafaat adalah ahlul bid’ah dan orang yang sesat. Akan tetapi syafa’at tersebut tidak akan bisa diraih kecuali setelah kita mendapatkan izin serta ridha dari Allah ta’ala. Sebagaimana firman-Nya, وَلا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى “Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah.” (QS. Al-Anbiya’: 28) Allah ta’ala juga berfirman. مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ “Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa seizin dari-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255) (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/31). Kemudian beliau menjelaskan sebab timbulnya tuduhan dusta tersebut, “Tatkala kusebutkan kepada mereka apa yang difirmankan Allah ta’ala, apa yang disabdakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta apa yang dijelaskan para ulama dari berbagai mazhab, tentang perintah untuk memurnikan ibadah untuk Allah ta’ala semata serta larangan untuk menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani yang menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahib sebagai tuhan selain Allah ta’ala, mereka pun berkata, “Kamu telah melecehkan para nabi, orang-orang shalih dan para wali.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/50). Poin Kedua: Tentang Ahlul Bait (Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Di antara tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Syaikh: mereka mengatakan bahwa beliau membenci ahlul bait serta tidak memenuhi hak-hak mereka sebagaimana mestinya. Jawabannya: tuduhan tersebut tidak sesuai dengan fakta; karena kenyataannya beliau mengakui kedudukan mereka dan mencintai serta menghormati mereka, bahkan beliau mengingkari orang yang benci terhadap mereka, beliau berkata, “Allah ta’ala telah mewajibkan kepada umat ini untuk memenuhi hak-hak keluarga Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk mengabaikan hak-hak mereka, dengan prasangka bahwa hal itu adalah bagian dari tauhid. Keyakinan seperti itu termasuk dalam sikap ghuluw (berlebih-lebihanSenin, 13 Juni 2011
BUKU PUTIH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB
Buku Putih Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Posted by Admin pada September 26, 2009 www.belasalafy.wordpress.com. بسم الله الرحمن الرحيم Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Dari dulu hingga sekarang, perdebatan serta perbincangan seputar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah dan jalan dakwahnya, terus berkecamuk antara mereka yang pro dan yang kontra. Dan yang mengherankan dari dakwaan mereka yang kontra -yang melontarkan tuduhan-tuduhan kepada Syaikh- adalah: omongan mereka yang kosong dari dalil berupa bukti dari perkataan Syaikh atau tulisan beliau di dalam kitab-kitabnya, yang ada hanyalah tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang terdahulu, lalu ‘difotokopi’ oleh para pewaris mereka. Kami kira setiap orang yang obyektif sepakat bahwa jalan yang paling tepat untuk mengenal hakikat pemikiran seseorang adalah dengan cara kembali langsung kepada orang tersebut atau kepada referensi-referensi yang otentik. Alhamdulillah tulisan-tulisan serta ucapan-ucapan Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab -ed) sampai saat ini masih ada dan mudah untuk didapatkan. Dengan menelaah tulisan-tulisan tersebut, benar tidaknya isu-isu yang sementara ini tersebar di masyarakat akan terlihat. Adapun tuduhan-tuduhan yang tanpa bukti, maka ini bagaikan fatamorgana yang tidak ada hakikatnya. Di tulisan ini, kami akan memaparkan ucapan-ucapan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang kami nukil dengan penuh amanah dari referensi-referensi otentik yang menghimpun perkataan-perkataan beliau. Peran kami dalam buku ini hanyalah sebagai penyusun. Buku ini memuat jawaban-jawaban Syaikh sendiri, atas tuduhan-tuduhan utama yang dilontarkan ‘para lawan’ dakwah beliau. Kami amat yakin insya Allah dengan taufik dari Allah, tulisan ini akan cukup untuk menjelaskan al-Haq bagi mereka yang memang menginginkannya. Adapun mereka yang memusuhi dan menentang perjuangannya, yang tidak henti-hentinya menebarkan tuduhan-tuduhan dusta, maka kami katakan kepada mereka: ‘Sadarlah, karena sesungguhnya kebenaran telah jelas, agama Allah ta’ala akan menang dan cahaya matahari yang bersinar terang tidak bisa dihalangi dengan kedua telapak tangan.’ Perkataan-perkataan beliau dalam buku ini meluluhlantakkan tuduhan-tuduhan mereka. Jika mereka memiliki bukti dari perkataan beliau yang menguatkan tuduhan tersebut maka keluarkanlah dan jangan disembunyikan. Jika mereka tidak bisa mendatangkannya, maka kami menasihatkan, “Telusurilah jalan Allah ta’ala dengan hati yang bersih dari hawa nafsu dan kefanatikan terhadap suatu golongan. Mohonlah kepada-Nya agar Dia menunjukkan kebenaran lalu ikutilah kebenaran itu. perhatikanlah perkataan-perkataan beliau, kemudian renungkanlah; apakah beliau datang membawa ajaran baru yang tidak ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah? Kemudian renungkan kembali: Adakah jalan keselamatan selain dengan mengucapkan kebenaran serta membenarkannya? Jika telah datang kebenaran kepadamu maka terimalah dan ikutilah kebenaran tersebut; karena yang demikian lebih baik dari pada bersikeras dalam kebatilan. Hanya kepada Allah-lah semuanya akan kembali… Hakikat Dakwah Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Alangkah baiknya kami paparkan terlebih dahulu penjelasan singkat tentang hakikat dakwah yang beliau serukan. Karena hingga saat ini ‘para musuh’ dakwah beliau masih terus membangun dinding tebal di hadapan orang-orang awam, sehingga mereka terhalang untuk melihat hakikat dakwah sebenarnya yang diusung oleh beliau. Syaikh berkata, “Segala puji dan karunia dari Allah, serta kekuatan hanyalah bersumber dari-Nya. Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikan hidayah kepadaku untuk menempuh jalan lurus, yaitu agama yang benar; agama Nabi Ibrahim yang lurus, dan Nabi Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.Alhamdulillah aku bukanlah orang yang mengajak kepada ajaran sufi, ajaran imam tertentu yang aku agungkan atau ajaran orang filsafat. Akan tetapi aku mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, dan mengajak kepada sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diwasiatkan kepada seluruh umatnya. Aku berharap untuk tidak menolak kebenaran jika datang kepadaku. Bahkan aku jadikan Allah, para malaikat-Nya serta seluruh makhluk-Nya sebagai saksi bahwa jika datang kepada kami kebenaran darimu maka aku akan menerimanya dengan lapang dada. Lalu akan kubuang jauh-jauh semua yang menyelisihinya walaupun itu perkataan Imamku, kecuali perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau tidak pernah menyampaikan selain kebenaran.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/37-38). “Alhamdulillah, aku termasuk orang yang senantiasa berusaha mengikuti dalil, bukan orang yang mengada-adakan hal yang baru dalam agama.” (KitabMuallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/36). “Dan yang aku dakwahkan sebenarnya adalah: Kita tidak boleh menyembah kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana firman-Nya, فَلا تَدْعُو مَعَ اللَّهِ أَحَداً “Maka kamu janganlah menyembah seorang pun di samping menyembah Allah.” (QS. Al-Jin: 18) Allah ta’ala juga memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, قُلْ إِنِّي لا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرّاً وَلا رَشَداً “Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak ( pula)kuasa memberikan suatu kemanfaatan.” (QS. Al-Jin: 21) Inilah firman Allah ta’ala yang telah disampaikan dan diwasiatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita… Inilah yang akan menjadi hakim antara kalian dan diriku. Jika kalian mendengar tentang dakwahku selain yang kukatakan tadi, maka ketahuilah bahwa hal itu adalah dusta.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/90-91). Poin Pertama: Keyakinan Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Di antara tuduhan besar yang dilontarkan ‘musuh-musuh’ dakwah Syaikh kepada beliau dalam masalah ini adalah: 1. Beliau dituduh tidak meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup Para Nabi dan Rasul. Demikianlah tuduhan yang tersebar, padahal semua kitab karangan beliau telah membuktikan dustanya tuduhan ini. Di antara perkataan beliau yang membantah tuduhan tersebut: “Aku beriman bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup Para Nabi dan Rasul. Keimanan seseorang tidak dianggap sah hingga dia beriman dengan kenabian dan kerasulannya.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/32). “Orang yang paling bahagia, paling besar kenikmatannya dan paling tinggi derajatnya adalah orang yang paling setia mengikuti tuntunan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengamalkan ajaran beliau.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/21). 2. Beliau dituduh tidak memenuhi hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak memosisikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana mestinya. Untuk menjelaskan hakikat tuduhan ini, kami akan kutip perkataan Syaikh yang menjelaskan keyakinan beliau tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata, “Ketika Allah ta’ala berkehendak untuk menampakkan Tauhid dan menyempurnakan agama-Nya di atas muka bumi, serta meninggikan kalimat Allah dan merendahkan kalimat orang-orang kafir; maka Allah ta’ala mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para rasul dan kekasih Rabb alam semesta. Beliau senantiasa dikenal setiap masa, bahkan disebutkan pula dalam kitab Taurat Nabi Musa ‘alaihis salam dan kitab Injil Nabi Isa ‘alaihis salam. Hingga Allah ta’ala memunculkan mutiara tersebut di antara kabilah Bani Kinanah dan Bani Zahrah. Allah mengutus beliau di masa-masa terputusnya (pengiriman) rasul-rasul, lalu menunjukinya jalan yang lurus. Sebelum beliau diutus menjadi Rasul, telah tampak pada dirinya tanda-tanda kenabian yang tidak bisa ditiru oleh siapapun yang hidup di zamannya. Allahta’ala menumbuhkan beliau dengan sebaik-baiknya hingga menjadi orang yang paling mulia akhlaknya, paling tinggi budi pekertinya, paling tangguh kesabarannya, paling baik dengan para tetangganya, serta paling jujur tutur katanya, sehingga kaumnya menjulukinya sebagai al-amin (yang dipercaya); karena di dalam pribadinya terdapat perilaku yang baik dan sifat-sifat yang terpuji.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/90-91). “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin para pemberi syafaat, dan pemberi syafaat agung (di padang mahsyar), Nabi Adam ‘alaihis salam dan keturunannya kelak berada di bawah benderanya.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/86). “Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam, dan rasul yang terakhir dan yang paling utama adalah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Kitabad-Durar as-Saniyyah: I/143). “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalah kepada umatnya dengan sempurna dan menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Beliau adalah penasihat terbaik bagi para hamba Allah, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, berjihad dengan sebenar-benarnya di jalan Allah ta’ala, serta beribadah kepada Allah ta’ala hingga ajalnya tiba.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/21). Syaikh menjelaskan bahwa sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Salah seorang dari kalian tidak dianggap beriman hingga aku lebih dia cintai daripada orang tua dan anak-anaknya serta seluruh manusia”, menunjukkan akan wajibnya mengedepankan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamatas kecintaan kepada diri sendiri, keluarga dan harta bendanya. (Kitab at-Tauhid: hal. 108). 3. Beliau dituduh mengingkari syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikh menjawab tuduhan ini dengan berkata, “Mereka menuduh kami mengingkari syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Subhanallah! ini adalah kedustaan yang besar. Bahkan kami menjadikan Allah ta’ala sebagai saksi, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang diberi izin Allah ta’ala untuk memberikan syafaat dan pemilik syafaat agung (di padang mahsyar). Kami memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah agar mengizinkan beliau untuk memberikan syafaatnya kepada kita, dan semoga Allah ta’ala mengumpulkan kita bersamanya kelak.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/63-64). “Yang mengingkari adanya syafaat adalah ahlul bid’ah dan orang yang sesat. Akan tetapi syafa’at tersebut tidak akan bisa diraih kecuali setelah kita mendapatkan izin serta ridha dari Allah ta’ala. Sebagaimana firman-Nya, وَلا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى “Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah.” (QS. Al-Anbiya’: 28) Allah ta’ala juga berfirman. مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ “Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa seizin dari-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255) (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/31). Kemudian beliau menjelaskan sebab timbulnya tuduhan dusta tersebut, “Tatkala kusebutkan kepada mereka apa yang difirmankan Allah ta’ala, apa yang disabdakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta apa yang dijelaskan para ulama dari berbagai mazhab, tentang perintah untuk memurnikan ibadah untuk Allah ta’ala semata serta larangan untuk menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani yang menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahib sebagai tuhan selain Allah ta’ala, mereka pun berkata, “Kamu telah melecehkan para nabi, orang-orang shalih dan para wali.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/50). Poin Kedua: Tentang Ahlul Bait (Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Di antara tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Syaikh: mereka mengatakan bahwa beliau membenci ahlul bait serta tidak memenuhi hak-hak mereka sebagaimana mestinya. Jawabannya: tuduhan tersebut tidak sesuai dengan fakta; karena kenyataannya beliau mengakui kedudukan mereka dan mencintai serta menghormati mereka, bahkan beliau mengingkari orang yang benci terhadap mereka, beliau berkata, “Allah ta’ala telah mewajibkan kepada umat ini untuk memenuhi hak-hak keluarga Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk mengabaikan hak-hak mereka, dengan prasangka bahwa hal itu adalah bagian dari tauhid. Keyakinan seperti itu termasuk dalam sikap ghuluw (berlebih-lebihanMAKNA SALAF ASH SHOLEH DAN WAHABI
Oleh: Hafidz Achmed
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita termasuk diantara orang-orang muslim dan salaf”.
Merekalah orang-orang yang mengikuti kaum salaf Ash-Sholeh, yaitu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sebagian orang mengatakan bahwa kami ini dari golongan Wahabi. Perbuatan ini termasuk panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya:
{ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ } (11) سورة الحجرات
“…dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan…” (QS. Al-Hujurot: 11).
إن كان تابع أحمد متوهباً فأنا المقر بأنني وهابي
Bila orang yang mengikuti Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dianggap seorang Wahabi,maka saya menyatakan bahwa saya adalah seorang Wahabi
musuh-musuh Tauhid menyebut orang-orang yang berjalan di atas Tauhid sebagai seorang wahhabi yang menisbahkan kepada Muhammad bin Abdil Wahhab. Seandainya mereka mau jujur, seharusnya mereka menyebut Muhammadiy karena dinisbahkannya kepada nama Muhammad bin Abdil Wahhab. Tetapi itulah kehendak Allah Azza wa Jalla, mereka menisbahkannya kepada Al-Wahhab ( الوهاب ) yang merupakan salah satu diantara nama-nama Allah Yang Agung, yang berarti Yang Maha Memberi.
bile orang-orang shufi menisbahkan diri mereka kepada suatu kelompok yang menggunakan Suuf (kulit domba). Maka orang-orang Wahhabi menisbahkan diri mereka kepada Al-Wahhab, yaitu Allah yang memberi mereka Tauhid dan memberinya kemampuan untuk dakwah kepada Tauhid dengan taufiq dari Allah Azza wa Jalla.
Minggu, 12 Juni 2011
DAKWAH AHLUSSUNNAH BUKANLAH DAKWAH WAHABI YANG SESAT

Kamis, 09 Juni 2011
KELEMBUTAN NABI SALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM

Oleh: Prof. dr. Achmad Satori Ismail
Ketika Rasulullah SAW duduk bersama para sahabatnya, seorang pendeta Yahudi bernama Zaid bin Sa'nah masuk menerobos shaf, lalu menarik kerah baju Rasul dengan keras seraya berkata kasar, "Bayar utangmu, wahai Muhammad, sesungguhnya turunan Bani Hasyim adalah orang-orang yang selalu mengulur-ulur pembayaran utang."
Umar bin Khattab RA langsung berdiri dan menghunus pedangnya. "Wahai Rasulullah, izinkan aku menebas batang lehernya." Rasulullah SAW berkata, "Bukan berperilaku kasar seperti itu aku menyerumu. Aku dan Yahudi ini membutuhkan perilaku lembut. Perintahkan kepadanya agar menagih utang dengan sopan dan anjurkan kepadaku agar membayar utang dengan baik."
Tiba-tiba pendeta Yahudi berkata, "Demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, aku datang kepadamu bukan untuk menagih utang. Aku datang sengaja untuk menguji akhlakmu. Tapi, aku telah membaca sifat-sifatmu dalam Kitab Taurat. Semua sifat itu telah terbukti dalam dirimu, kecuali satu yang belum aku coba, yaitu sikap lembut saat marah. Dan aku baru membuktikannya sekarang. Oleh sebab itu, aku bersaksi tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah utusan Allah. Adapun piutang yang ada padamu, aku sedekahkan untuk orang Muslim yang miskin."
Itulah kemuliaan akhlak Rasulullah, sang teladan yang telah dipuji Allah sebagai nabi dengan akhlaknya berada di atas semua akhlak yang agung. (QS Alqalam: 3). Kelembutan dan kesabaran dijadikan sebagai manhaj dalam berdakwah. Ucapannya lembut, sikapnya lembut, dan perilakunya dalam semua aktivitas dakwahnya adalah kelembutan, kecuali sikap yang membutuhkan ketegasan, seperti dalam menegakkan //hudud dan berperang melawan kufar penyerang.
Kelembutan merupakan akhlak yang mampu mendekatkan manusia kepada Islam. Allah menjelaskan, "Maka, disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS Ali Imran 159).
Kekerasan dan perilaku anarkis akan merugikan Islam dan umatnya. Beliau selalu menyeru umatnya agar bersikap lembut. Beliau bersabda, "Sikap hati-hati (tidak tergesa-gesa), kesederhanaan, dan perilaku lembut adalah bagian dari 24 ciri kenabian." (HR at-Tirmidzi).
Rasul SAW pernah mengingatkan Siti Aisyah saat bersikap kasar. "Sesungguhnya Allah Mahalembut dan menyukai kelembutan dan Allah memberi dampak positif pada kelembutan yang tidak diberikan kepada kekerasan. Dan tiada kelembutan pada sesuatu kecuali akan menghiasinya dan bila dicabut kelembutan dari sesuatu akan menjadikannya buruk." (HR Muslim). Rasulullah juga menegaskan bahwa barang siapa yang tidak memiliki kelembutan maka akan dijauhkan dari kebaikan. (HR Muslim).
Umat Islam wajib bersikap lembut dalam menghadapi berbagai situasi dan tantangan. Banyak musuh-musuh Allah yang selalu memprovokasi agar umat Islam bersikap ekstrem, bertindak anarkis, dan melakukan teror.
Sikap dan perilaku tidak terpuji itu, akan menzalimi dan mendorong non-Muslim antipati terhadap Islam.
Selasa, 31 Mei 2011
PANDANGAN PARA IMAM TENTANG HUKUM/PENDAPATNYA
Para imam banyak menulis kitab untuk menuangkan pendapatnya tentang berbagai hal. Dalam perkembangannya pendapat-pendapat tersebut membentuk berbagai madzhab, diantaranya adalah 4 (empat) madzhab yang terkenal di Indonesia.Sayang, banyak yang kemudian terjerumus pada sikap fanatik madzhab, seakan-akan pendapat imam adalah sebuah aksioma agama yang tidak bisa diutak-atik. Sementara para imam tidak pernah menyarankan sikap demikian. Justru para imam tersebut memberikan contoh yang sebaliknya, agar umat Islam selalu mengembalikan pendapat pada petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Berikut perkataan (qaul) mereka.
Abu Hanifah rahimahullah
Qaul 1: “Apabila aku mengeluarkan suatu pendapat yang bertentangan dengan al-Qur'an dan as-Sunnah, maka tinggalkanlah pendapatku itu.”1
Perkataan ini diulas oleh as-Syuhnah dalam kitabnya Syarh al-Hidayah; “Apabila suatu hadits shahih bertentangan dengan madzhab, maka hadits itulah yang mesti diamalkan. Demikian inilah pendapat madzhab Abu Hanifah, jadi para pengikut madzhab tidaklah dikatakan keluar dari garis pengikut Hanafi disebabkan mengamalkan hadits tersebut.”
Qaul 2: “Apabila hadits itu shahih, itulah madzhabku.”2
Malik bin Anas rahimahullah
Qaul 1: “Aku hanyalah manusia biasa yang pendapatku bisa benar dan bisa salah. Karena itu telitilah pendapat yang aku kemukakan. Semua pendapat yang selaras dengan al-Qur'an dan as-Sunnah ambillah, jika tidak selaras tinggalkanlah.”3
Qaul 2: “Semua perkataan manusia sama, bisa diterima atau ditolak, kecuali perkataan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.”4
Al-Imam asy-Syafi'i rahimahullah
Qaul 1: “Suatu sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mungkin sampai pada seseorang atau tidak. Jadi kalau aku pernah berpendapat atau merumuskan suatu prinsip ternyata ada hadits yang sah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan sebaliknya, maka pendapat yang betul adalah yang Nabi katakan dan aku pun berpendapat dengannya.”5
Qaul 2: “Setiap hadits yang sah dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam akan menjadi pendapatku walaupun sebelumnya kamu tidak pernah mendengarnya dariku.”6
Qaul 3: “Apabila kamu mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka berpeganglah kepada hadits tersebut dan tinggalkan pendapatku (atau tulisanku).”7
Qaul 4: “Pertama, suatu berita yang berasal dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wajib diterima. Kedua, berita atau hadits tersebut wajib diterima jika telah terbukti sah, walaupun para imam belum ada yang mengamalkan atau mengajarkannya. Hal ini menunjukkan bahwa pendapat seorang imam harus ditinggalkan jika bertentangan dengan hadits Nabi, diganti dengan petunjuk yang berasal dari hadits Nabi. Disamping itu, hadits yang diyakini sah dari Nabi adalah sebuah kepastian yang tidak perlu dikonfirmasikan dengan pendapat seseorang.”8
Ahmad bin Hanbal rahimahullah
Qaul 1: “Seluruh perkataan bisa diterima atau ditolak, kecuali perkataan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.”99
Qaul 2: “Pendapat al-Auza'i, Malik, dan Abu Hanifah, semuanya hanyalah pendapat. Aku pandang sama di sisiku, yang mesti jadi rujukan (mutlak) hanyalah sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.”10
Jangan-jangan Kita yang Lancang
Berkata Syaikh al-Albani rahimahullah tentang perkataan para imam tersebut; “Kenyataan tersebut menggambarkan ketinggian ilmu dan ketakwaan para imam tersebut. Melalui perkataan tersebut, mereka menegaskan bahwa dirinya tidaklah menguasai sunnah secara keseluruhan. Kadangkala didapati (pada imam madzhab) beberapa perkara yang menyelisihi sunnah, karena riwayat tentangnya (tentang perkara tersebut) tidak sampai kepadanya. Apabila mengetahui sunnah tersebut, tentu mereka akan memerintahkan kita agar berpegang teguh dengannya dan menjadikannya sebagai madzhab mereka. Semoga Allah memberi rahmat kepada mereka, semuanya.”11
Tidak sedikit orang yang berpendapat bahwa seseorang harus berpegang dengan qaul salah seorang imam yang empat secara mutlak. Bahkan mencampuradukkan pendapat satu imam dengan imam yang lain tidak boleh. Pendek kata seorang muslim, menurut kelompok ini, harus setia sampai mati dengan qaul seorang imam.
Sikap macam apakah ini? Tak lebih sebagai sikap ta'ashub yang berlebihan. Bahkan kalau ditimbang dengan qaul para imam tersebut diatas merupakan bentuk kelancangan terhadap nasihat imam yang, katanya, mereka hormati dan muliakan tersebut. Sebenarnya bukan hormat dan memuliakan, justru dalam kenyataannya bersikap sok tahu dan menyalahkan petunjuk para imam. Bukankah para imam berpesan agar tidak mendewakan pendapatnya? Mereka selalu memerintahkan agar mengembalikan segala pendapat kepada petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Lantas?!
Catatan kaki:
^ Riwayat Shalih al-Fulani dalam Iqaz al-Himam, hal. 50.
^ Riwayat Ibn ‘Abd al-Barr dari al-Imam Abu Hanifah. Shifatu Shalatin-Nabi, hal. viii.
^ Riwayat Ibn ‘Abd al-Barr dalam Jami' Bayan al-Ilm, jilid. 2, hal. 32.
^ Jami' Bayan al-Ilm, jilid. 2, hal. 91.
^ Riwayat Ibn ‘Asakir di dalam Tarikh Dimashq, 15/1/3. al-Imam Ibn ‘Asakir lahir pada 499 H/1106 M di Dahalyik. Seorang ahli sejarah dan ahli hadits yang terkemuka di kalangan madzhab asy-Syafi‘i pada abad ke 5 H. Nama aslinya Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hassan, wafat pada 571 H/1176 M.
^ Riwayat Ibn Abi Hatim di dalam al-Adab, hal. 93-94.
^ Riwayat al-Khatib al-Baghdadi di dalam al-Ihtijaj bi asy-Syafi‘i, jilid. 8, hal. 2 dan al-Nawawi dalam al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, jilid. 1, hal. 63. Al-Imam an-Nawawi adalah seorang imam mujtahid yang masyhur bagi madzhab asy-Syafi‘i. Nama aslinya Abu Zakaria Yahya bin Syaraf lahir di Syiria pada 631 H/1233 M. Diantara karangan Beliau ialah kitab fiqh madzhab asy-Syafi‘i berjudul al-Majmu' Syarh al- Muhadzdzab dan Syarh Shahih Muslim. Wafat pada 676 H/1277 M.
^ Ar-Risalah, al-Imam asy-Syafi'i. 423/3.
^ Abu Dawud dalam Masa'il al-Imam Ahmad, hal. 276. Al-Imam Abu Dawud ialah Sulaiman bin al-Asy'ath as-Sijistan, lahir pada 202H/818M, sempat berguru kepada Ahmad bin Hanbal bersama al-Bukhari dan Muslim. Kitabnya yang terkenal ialah Sunan Abu Dawud, terdiri dari 4800 buah hadits. Selain itu Beliau juga mengarang belasan kitab lain sebelum meninggal dunia pada 275 H/889 M di Basrah, Irak.
^ Jami' Bayan al-Ilm, jilid. 2, hal. 149.
^ Shifatu Shalatin-Nabi, hal. viii.
barokallohu fikum....
TAWASSUL
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menghamba mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya.Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS. 39:3)"Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang. (QS. 30:52)".
Tawassul yang disyariatkan :
1. Tawassul kepada Allàh dengn nama-nama dan sifat-sifatnya.
Dasarnya adalah firman Allàh , 'Hanya milik Allàh asma' al-husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asma' al-husna itu.' (Qs.al A'raf:180)
2. Memuji Allàh dan membaca sholawat kepada Nabi di permulaan doa.
Dasarnya adalah hadits dari Fadhalah bin Ubaid, dari Nabi, beliau mendengar seseorang memohon dalam doanya, maka beliau bersabda:
'Orang ini tergesa-gesa.' Lalu memanggilnya dan mengatakan kepadanya:
'Jika salah seorang dari kalian berdoa, maka awalilah dengan memuji kepada Allàh serta bersholawatlah kepada Nabi selanjutnya berdoalah sesukanya.'
3. Bertawassul dengan doa orang-orang sholih dengan harapan doa mereka dikabulkan oleh Allàh. Caranya memohon seorang muslim yg MASIH HIDUP agar mendoakan untuknya.
Dasarnya adalah ucapan anak-anak Ya'qub kepada ayahnya :
'Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.' (Qs.Yusuf:97).
Demikian pula kisah seorang badui yang datang kepada Nabi agar memohon kepada Allàh supaya menurunkan hujan, lalu Rasulullàh berdoa kepada Allàh.
Demikian pula Umar dan para sahabatnya meminta kepada al-Abbas agar memintakan hujan untuk mereka, yakni berdoa kepada Allàh agar menurunkan hujan kepada mereka.
(sumber Tahdzib Tashil al Aqidah al Islamiyyah hal 185-187 )
Selasa, 24 Mei 2011
AHLUS SUNNAH TIDAK MENYUKAI BANYAK BICARA DAN DEBAT KUSIR
Oleh: Abul FudhailImam Malik menegaskan hal yang penting ini, sebagaimana dinukil oleh Imam as-Satibi dalam kitab al-’Itisom bahwa debat yang tidak berguna itu tidak termasuk dalam bagian agama sama sekali (bid’ah). Imam al-Lalikai menukil perkataan Imam Malik dalam kitab Syarhul Usul I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah berkata, “Aku membenci debat dalam permasalahan-permasalahan agama. Dan penduduk negri kita (Madinah) senantiasa membenci dan melarangnya, seperti berdebat seputar pemikiran Jahmiah dan Qadariah dan yang semacamnya. Dan aku membenci perbincangan, kecuali perbincangan yang akan mendatangkan manfaat berupa amal.”
Ibnu Abdil Bar menyatakan dalam kitab beliau Jami al-Bayan al-Ilmi, menukil perkataaan Imam Ahmad bahwa beliau berkata, “Berpeganglah kalian dengan atsar sahabat dan al-hadits, dan sibukkanlah diri kalian dengan hal-hal yang bermanfaat. Jauhilah berbantah-bantahan, karena orang yang suka berdebat tak akan pernah beruntung.”
Beliau juga berkata, “Tak akan pernah bahagia orang yang suka berdebat. Dan tidaklah engkau menjumpai seseorang yang suka berdebat kecuali di hatinya tersimpan sebuah penyakit.”
Imam al-Ajuri di dalam kitab beliau asy-Syari’ah, menyinggung pokok yang penting ini. Dia menukil perkataan Imam al-Auzai yang berkata, “Hendaklah kalian berpegang teguh pada jejak generasi salaf walaupun kalian ditinggalkan manusia. Dan janganlah kalian tergiur oleh pendapat-pendapat orang belakangan walaupun dipoles dengan ungkapan-ungkapan indah.”
Inilah jalan para generasi Salafus shaleh. Mereka melarang manusia dari debat sia-sia tentang agama. Dan keengganan mereka untuk berdebat itu bukanlah karena mereka itu bodoh atau karena takut kepada manusia atau karena tidak mampu sebagaimana diduga oleh sebagian orang bodoh. Tetapi mereka mengekang dari hal itu semata-mata takut kepada Allah.
Sebagaimana dinukil Imam al-Ajuri dalam kitab beliau asy-Syari’ah dari Ibnu Sirrin, beliau berkata kepada seseorang yang mengajak beliau untuk berdebat, “Aku mengerti apa yang engkau inginkan; dan sebenarnya aku lebih pandai bersilat lidah daripada kamu, tetapi aku tidak berselera untuk berdebat denganmu.”
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab beliau Fadlu Ilmi Salaf menegaskan ketentuan ini dan membantah orang yang menuduh bahwa generasi salaf (karena tidak banyak bicara) sebagai orang yang lemah dan bodoh. Beliau berkata, “Sungguh telah terfitnah orang banyak dari generasi kiwari ini dengan penyakit suka bedebat atau berbantah-bantahan. Mereka menyangka bahwa orang yang banyak bicara dan berdebat dalam masalah agama adalah lebih alim dari orang yang tidak banyak bicara dan berdebat. Hal ini sangat bodoh karena komentar-komentar generasi tabi’in lebih banyak dari pada komentar para sahabat, padahal para sahabat lebih alim dari tabi’in; dan begitu pula komentar-komentar generasi tabiut tabi’in lebih banyak dari generasi tabi’in, padahal generasi tabi’in lebih alim dari generasi tabiut tabi’in.”
Maka banyaknya ilmu itu tidak bisa diukur dengan banyaknya komentar dan riwayat, karena ilmu itu adalah merupakan cahaya yang terpendam di hati. Dengan ilmu itu seseorang dapat memahami kebenaran dan dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil dan kemudian dengan ilmunya dia bisa mengungkapkan secara ringkas dan mudah difahami. Rasulullah sendiri adalah orang yang diberikan oleh Allah, jawaami’ul kalim (ucapan-ucapan ringkas dan padat) dan berkata dengan perkataan yang pendek. Oleh karenanya terdapat larangan dari Rasulullah agar jangan banyak bicara dan menyibukkan diri dengan qila wa qola (yakni menyebarkan berita yang belum pasti dan tidak berguna).
Maka menjadi sebuah keharusan untuk meyakini bahwa tidak mesti orang yang lebih banyak ulasannya terhadap suatu ilmu lebih alim dari orang yang tidak banyak berkomentar. Dan sungguh sekarang ini kita telah tertimpa musibah berupa banyaknya orang-orang bodoh yang yakin bahwa sebagian orang yang banyak mengeluarkan analisa dan pendapat lebih alim daripada ulama-ulama salaf. Ini adalah merupakan pelecehan berat terhadap salafus shalih, berburuk sangka kepada mereka dan memberikan predikat buruk kepada mereka berupa kejahilan dan minimnya ilmu.
Faktor Diamnya Para Salaf Dari Perdebatan Atau Berbantah-Bantahan
Para salafus shalih senantiasa menjauhi debat atau berbantah-bantahan tentang masalah agama, karena banyak debat itu akan mendatangkan musibah berupa kegoncangan hati, sehingga hati tersebut tidak bisa kokoh untuk berpijak di atas suatu prinsip. Sebagaimana dinukil oleh Imam al-Ajuri dari Umar bin Abdul Aziz yang berkata bahwa barang siapa suka berdebat maka dia akan sering berubah prinsip.
Selain itu banyak berdebat akan membawa seseorang terjerumus ke dalam kesesatan dan kerancuan antara yang haq dan yang bathil. Sehingga Imam Abu Qilabah berkata sebagaimana dinukil oleh al-Ajuri di dalam kitab As-Syari’ah, “Janganlah kalian berbincang-bincang tentang masalah agama dengan ahli bid’ah. Dan jangan pula melakukan perdebatan dengan mereka, karena tidak akan menjamin kalian bisa selamat dari keburukan mereka. Juga karena mereka akan berusaha membenamkan kalian kedalaam lumpur kesesatan dan membuat kalian bingung serta ragu terhadap sebagian urusan agama kalian sebagaimana halnya mereka.”
Dan begitu pula perdebatan akan mengakibatkan timbulnya rasa kebencian dan permusuhan di hati. Imam Malik menuturkan dalam kitab al-Ibanah bahwa berbantah-bantahan tentang sebuah ilmu akan menyebabkan hati menjadi keras dan memicu timbulnya kedengkian.
Perincian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Tentang Manhaj Ini
Syaikhul Islam Ibnu Taimi menjelaskan bahwa salafus shalih adalah orang-orang yang tidak menyukai debat dan perselisihan dalam agama, namun demikian terkadang mereka mau berdebat dan adu hujjah, jika memang dibutuhkan dan terpaksa atau dalam rangka mengenyahkan kerusakan dan kebathilan.
Beliau berkata lagi di dalam kitab Darut Ta’arud an Naqli wal ‘Aqli, bahwa sesuatu yang tercela menurut kacamata syar’i adalah sesuatu yang dicela oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti debat dalam rangka membenarkan yang bathil dan debat kusir (tanpa ilmu) dan mendiskusikan sebuah kebenaran yang jelas dan gamblang (seperti wajibnya shalat dan lain-lain).
Adapun debat yang sesuai syari’at (dalam rangka mendakwahi orang-orang jahil, atau dalam rangka sama-sama mencari kebenaran) adalah yang diperintahkan Allah seperti dalam firman-Nya,
“Mereka berkata, Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami.” (QS. Hud:32)
Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. al-An'am:83)
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Rabbnya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan)? Ketika Ibrahim mengatakan, Rabbku ialah yang menghidupkan dan mematikan, orang itu berkata, Saya dapat menghidupkan dan mematikan. Ibrahim berkata, Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat, lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. al-Baqarah:258)
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. an-Nahl:125) dan ayat-ayat lain yang semisalnya. Bahkan justru merupakan sesuatu yang wajib atau mustahab (yang dianjurkan). Jidal (adu hujjah) seperti ini tidaklah dilarang dan dicela oleh syari’at.
Beliau juga berkata, “Jadi,yang dimaksud larangan para salaf dalam berdebat adalah yang dilakukan oleh orang yang tidak memenuhi syarat untuk melakukan perdebatan (kurang ilmu dan lain-lain) atau perdebatan yang tidak mendatangkan kemaslahatan yang pasti; berdebat dengan orang yang tidak menginginkan kebenaran, serta berdebat untuk saling unjuk kebolehan dan saling mengalahkan yang berujung dengan ujub (bangga diri) dan kesombongan.
Jidal (adu hujjah) adalah masalah yang hukumnya belum pasti; dan untuk menentukan hukum tentang masalah ini, tergantung kepada kondisi yang ada. Sedangkan debat yang sesuai dengan syari’at, maka hukumnya terkadang wajib dan terkadang mustahab.
Kesimpulannya, debat itu terkadang terpuji dan terkadang tercela; terkadang membawa mafsadat (kerusakan) dan terkadang membawa mashlahat (kebaikan); terkadang merupakan sesuatu yang haq dan terkadang merupakan sesuatu yang bathil.
[Diringkas dan diterjemahkan dari tulisan Dr.‘Adil al-Muthayyarot dalam Majalatil Furqaan ‘adad 227]
http://www.mail-archive.com/fupm-ejip@usahamulia.net/msg00697.html
Senin, 23 Mei 2011
ZIARAH KUBUR DAN MENDO'AKAN MAYIT SETELAH DIKUBUR
Dari Buraidah ra. berkata, Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Tadinya aku melarang kamu sekalian untuk ziyarah kubur, tapi kini berziyarahlah kamu sekalian". (HR. Muslim) ---->Dalam riwayat lain dikatakan: "Maka barangsiapa yang ingin ziyarah kubur maka berziyarahlah ia karena sesungguhnya ziyarah kubur itu dapat mengingatkan pada akhirat".Dari Buraidah ra. berkata: "Nabi Sallallahu 'Alaihi wa Sallam sering mengajarkan kepada para shahabat bila mereka pergi ke kubur, yaitu hendaklah ia mengucapkan: "ASSALAAMU'ALAIKUM AHLAD DIYAARI MINAL MUKMIMINIINA WAL MUSLIMIINA WA-INNAA IN...SYAA-ALLAAHU BIKUM LAAHIQUN. AS-ALULLAAHA LANAA WALAKUMUL 'AAFIYAH (Kesejahteraan semoga terlimpahkan atas kamu sekalian wahai penghuni perkampungan yang terdiri dari orang-orang mukmin dan muslim, dan kami insya Allah akan menyusul kamu sekalian. Saya memohon semoga Allah melimpahkan keselamatan kepada kami dan kepada kamu sekalian" (Riwayat Muslim).
Dari Ibnu 'Abbas ra. berkata: "Rasulullah melewati kubur di Madinah, kemudian beliau menghadapkan wajahnya kepada akhli kubur dan mengucapkan: "ASSALAAMU'ALAIKUM YAA AHLAL QUBUURI YAGHFIRULLAAHU LANAA WALAKUM. ANTUM SALAFUNAA WANAHNU BIL ATSAR (Kesejahteraan semoga terlimpahkan atas kamu sekalian wahai penghuni kubur, semoga Allah memberi ampunan kepada kami dan kepada kamu sekalian. Kamu sekalian telah mendahului kami dan kami akan mengikutinya)". (Riwayat At-Turmudzy).
Dari Abu 'Amr, ada yang memanggilnya dengan Abu 'Abdullah, ada pula yang memanggilnya dengan Abu Laila 'Utsman bin 'Affan ra. berkata: "Apabila Nabi Sallallahu 'Alaihi wa Sallam telah selesai menguburkan mayit maka beliau berdiri dan bersabda: "Mintalah ampun untuk saudaramu dan mohonlah kepada Allah agar ia diberi ketetapan hati karena sesungguhnya ia sekarang sedang ditanya". (HR. Abu Daud)
Dari 'Amr bin Al 'Ash ra berkata: "Apabila kamu sekalian mengubur saya maka berdirilah disekeliling kuburku selama kira-kira tukang jagal menyembelih ternak dan membagi-bagikan dagingnya sehingga saya merasa agak tenang dan agar saya dapat ...menjawab apa yang ditanyakan oleh utusan Tuhanku". (Riwayat Muslim) ---------> Imam Syafi'y rahimahullah berkata: "Dan disunatkan pula untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur'an dikubur itu, dan alangkah baiknya bila mereka mengkhatamkan Al-Qur'an" ----> KETERANGAN: Hanya sebatas ini yang saya tahu referensinya. Keterangan ini berlaku bila kita mengiringi jenazah yang hendak dikubur. Wallahu'alam.
MAKNA BERPAKAIAN TAPI PADA HAKEKATNYA TELANJANG
Bismillah...Adapun makna sabda Nabi Shololloohu ‘alahi Wassallam "Berpakaian tapi telanjang," yakni wanita-wanita tersebut memakai pakaian, akan tetapi pakaian mereka tidak tertutup rapat (menutup seluruh tubuhnya atau auratnya).
Para ulama berpendapat bahwa di antara yang termasuk berpakaian tapi telanjang, yaitu pakian tipis, sehingga terlihat kulit yang terbungkus di belakangnya, sehingga secara lahiriyah pemakainya terlihat berpakaian, tetapi pada hakikatnya telanjang. Juga termasuk pakaian transparan, yaitu pakaian yang tebal, tetapi pendek (mini), pakaian yang ketat sehingga menempel pada kulit dan memperlihatkan lekuk tubuh pemakainya, sehingga seakan-akan tidak berpakaian. Semua pakaian tersebut termasuk jenis pakaian telanjang. Makna tersebut, jika yang dimaksud adalah pakaian transparan dalam pengertian inderawi.
Sedangkan jika yang dimaksud adalah pakaian transparan dalam pengertian maknawi, maka yang dimaksud dengan pakai-an adalah memelihara kesucian diri dan rasa malu. Kemudian yang dimaksud dengan telanjang adalah menganggap sepele perbuatan dosa dan memperlihatkan aib kepada orang lain. Dengan demikian dilihat dari satu sisi wanita-wanita tersebut berpakaian, tetapi dilihat dari sisi lain mereka telanjang.
(Syaikh Ibn Utsaimin, Majmu' Durus Fatawa al-Haram al-Makki, Juz 3, hal. 219. Look: FATWA-FATWA TERKINI, Penerbit DARUL HAQ.)
Minggu, 22 Mei 2011
HADIST-HADIST SEPUTAR LARANGAN MEMAKAI SUTERA, EMAS DAN PERAK
Dari 'Umar bin Khaththab ra, berkata, Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Janganlah kamu sekalian memakai kain sutera, karena sesungguhnya orang yang telah memakainya di dunia maka nanti di akhirat tidak akan memakainya lagi" (HR. Bukhari dan Muslim).Dari ' Ali ra. berkata: "Saya melihat Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam memegang kain sutera ditangan kanannya, dan memegang emas ditangan kirinya kemudian bersabda: "Sesungguhnya dua benda ini haram bagi ummatku yang laki-laki". (HR. Abu Daud)
Dari Abu Musa Al Asy'ary ra. bahwasannya Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Memakai kain sutera dan emas itu haram bagi ummatku yang laki-laki; dan halal bagi ummatku yang perempuan". (HR. At-Turmudzy).
Dari 'Umar bin Khaththab ra. berkata: "Saya mendengar Rasulullah Sallallahu 'Alahi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya orang yang memakai kain sutera adalah orang yang tidak akan mendapat bagian nanti (di akhirat)". (HR. Bukhari dan Muslim). -----> Dalam riwayat Bukhari dikatakan: "Orang yang tidak akan mendapat bagian kain sutera nanti di akhirat".
Dari Hudzaifah ra berkata: " Nabi Sallallahu 'Alaihi wa Sallam telah melarang kami untuk minum dan makan dengan bejana emas dan perak, serta melarang pula untuk memakai kain sutera baik yang tipis maupun yang tebal dan melarang pula untuk duduk diatasnya". ( Riwayat Bukhari)
Dari Anas ra. berkata:" Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memberi kemurahan kepada Zubair dan 'Abdurrahman bin 'Auf ra. untuk memakai kain sutera karena menderita penyakit gatal-gatal". (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Dari Ummu Salamah ra. bahwasannya Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Orang yang minum dengan menggunakan bejana perak itu bagaikan menuangkan api neraka kedalam perutnya". (HR. Bukhari dan Muslim). --------> Dalam riwayat Muslim dikatakan: " Sesungguhnya orang yang makan atau minum dengan menggunakan bejana perak dan emas".
Dari Hudzaifah ra. berkata: "Sesungguhnya Nabi Sallallahu 'Alaihi wa Sallam melarang kami untuk memakai kain sutera baik yang halus maupun yang kasar, dan melarang minum dengan menggunakan emas dan perak. Beliau bersabda: "Itu semua untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia, dan untuk kamu sekalian nanti di akhirat". (HR Bukhari dan Muslim).
Dari Hudzaifah ra. berkata:"Saya mendengar Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Janganlah kamu sekalian memakai kain sutera baik yang halus maupun yang kasar; dan janganlah kamu sekalian minum dengan menggunakan bejana emas dan perak serta janganlah kamu sekalian makan dengan memakai piring emas atau perak". (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Anas bin Sirin berkata: "Ketika saya bersama Anas bin Malik ra. kerumah salah seorang majusi, disitu dijamu dengan faludza pada bejana yang terbuat dari perak tetapi Anas tidak mau memakannya. Kemudian Anas berkata kepada orang majusi itu: "Pindahkanlah". Maka orang majusi itu memindahkannya pada bejana yang terbuat dari kayu, lantas dihidangkannya maka Anas memakannya". (Riwayat Al Baihaki).