Minggu, 14 Februari 2010

MAYORITAS WANITA PENGHUNI NERAKA (Bag 2)


2. Durhaka Terhadap Suami

Kedurhakaan yang dilakukan seorang istri terhadap suaminya pada umumnya berupa tiga bentuk kedurhakaan yang sering kita jumpai pada kehidupan masyarakat kaum Muslimin. Tiga bentuk kedurhakaan itu adalah :

1. Durhaka dengan ucapan.

2. Durhaka dengan perbuatan.

3. Durhaka dengan ucapan dan perbuatan.

Bentuk pertama ialah seorang istri yang biasanya berucap dan bersikap baik kepada suaminya serta segera memenuhi panggilannya, tiba-tiba berubah sikap dengan berbicara kasar dan tidak segera memenuhi panggilan suaminya. Atau ia memenuhinya tetapi dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak senang atau lambat mendatangi suaminya. Kedurhakaan seperti ini sering dilakukan seorang istri ketika ia lupa atau memang sengaja melupakan ancaman-ancaman Allah terhadap sikap ini.

Termasuk bentuk kedurhakaan ini ialah apabila seorang istri membicarakan perbuatan suami yang tidak ia sukai kepada teman-teman atau keluarganya tanpa sebab yang diperbolehkan syar’i. Atau ia menuduh suaminya dengan tuduhan-tuduhan dengan maksud untuk menjelekkannya dan merusak kehormatannya sehingga nama suaminya jelek di mata orang lain. Bentuk serupa adalah apabila seorang istri meminta di thalaq atau di khulu’ (dicerai) tanpa sebab syar’i. Atau ia mengaku-aku telah dianiaya atau didhalimi suaminya atau yang semisal dengan itu.

Permintaan cerai biasanya diawali dengan pertengkaran antara suami dan istri karena ketidakpuasan sang istri terhadap kebaikan dan usaha sang suami. Atau yang lebih menyedihkan lagi bila hal itu dilakukannya karena suaminya berusaha mengamalkan syari’at-syari’at Allah subhanahu wa ta’ala dan sunnah-sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Sungguh jelek apa yang dilakukan istri seperti ini terhadap suaminya. Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :

“Wanita mana saja yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab (yang syar’i, pent.) maka haram baginya wangi Surga.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi serta selain keduanya. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 85)

Bentuk kedurhakaan kedua yang dilakukan para istri terjadi dalam hal perbuatan yaitu ketika seorang istri tidak mau melayani kebutuhan seksual suaminya atau bermuka masam ketika melayaninya atau menghindari suami ketika hendak disentuh dan dicium atau menutup pintu ketika suami hendak mendatanginya dan yang semisal dengan itu.

Termasuk dari bentuk ini ialah apabila seorang istri keluar rumah tanpa izin suaminya walaupun hanya untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Yang demikian seakan-akan seorang istri lari dari rumah suaminya tanpa sebab syar’i. Demikian pula jika sang istri enggan untuk bersafar (melakukan perjalanan) bersama suaminya, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya, berjalan di tempat umum dan pasar-pasar tanpa mahram, bersenda gurau atau berbicara lemah-lembut penuh mesra kepada lelaki yang bukan mahramnya dan yang semisal dengan itu.

Bentuk lain adalah apabila seorang istri tidak mau berdandan atau mempercantik diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal itu, melakukan puasa sunnah tanpa izin suaminya, meninggalkan hak-hak Allah seperti shalat, mandi janabat, atau puasa Ramadlan.

Maka setiap istri yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti tersebut adalah istri yang durhaka terhadap suami dan bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Jika kedua bentuk kedurhakaan ini dilakukan sekaligus oleh seorang istri maka ia dikatakan sebagai istri yang durhaka dengan ucapan dan perbuatannya. (Dinukil dari kitab An Nusyuz karya Dr. Shaleh bin Ghanim As Sadlan halaman 23-25 dengan beberapa tambahan)

Sungguh merugi wanita yang melakukan kedurhakaan ini. Mereka lebih memilih jalan ke neraka daripada jalan ke Surga karena memang biasanya wanita yang melakukan kedurhakaan-kedurhakaan ini tergoda oleh angan-angan dan kesenangan dunia yang menipu.

Ketahuilah wahai saudariku Muslimah, jalan menuju Surga tidaklah dihiasi dengan bunga-bunga nan indah, melainkan dipenuhi dengan rintangan-rintangan yang berat untuk dilalui oleh manusia kecuali orang-orang yang diberi ketegaran iman oleh Allah. Tetapi ingatlah di ujung jalan ini ada Surga yang Allah sediakan untuk hamba-hamba-Nya yang sabar menempuhnya.

Ketahuilah pula bahwa jalan menuju neraka memang indah, penuh dengan syahwat dan kesenangan dunia yang setiap manusia tertarik untuk menjalaninya. Tetapi ingat dan sadarlah bahwa neraka menanti orang-orang yang menjalani jalan ini dan tidak mau berpaling darinya semasa ia hidup di dunia.

Hanya wanita yang bijaksanalah yang mau bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada suaminya dari kedurhakaan-kedurhakaan yang pernah ia lakukan. Ia akan kembali berusaha mencintai suaminya dan sabar dalam mentaati perintahnya. Ia mengerti nasib di akhirat dan bukan kesengsaraan di dunia yang ia takuti dan tangisi.

3. Tabarruj

Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajib untuk ditutupi dari hal-hal yang dapat menarik syahwat lelaki. (Jilbab Al Mar’atil Muslimah halaman 120)

Hal ini kita dapati pada sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang dikarenakan minimnya pakaian mereka dan tipisnya bahan kain yang dipakainya. Yang demikian ini sesuai dengan komentar Ibnul ‘Abdil Barr rahimahullah ketika menjelaskan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut. Ibnul ‘Abdil Barr menyatakan : “Wanita-wanita yang dimaksudkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah yang memakai pakaian yang tipis yang membentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada dhahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .” (Dinukil oleh Suyuthi di dalam Tanwirul Hawalik 3/103 )

Mereka adalah wanita-wanita yang hobi menampakkan perhiasan mereka, padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang hal ini dalam firman-Nya :

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (An Nur : 31)

Imam Adz Dzahabi rahimahullah menyatakan di dalam kitab Al Kabair halaman 131 : “Termasuk dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka dilaknat ialah menampakkan hiasan emas dan permata yang ada di dalam niqab (tutup muka/kerudung) mereka, memakai minyak wangi dengan misik dan yang semisalnya jika mereka keluar rumah … .”

Dengan perbuatan seperti ini berarti mereka secara tidak langsung menyeret kaum pria ke dalam neraka, karena pada diri kaum wanita terdapat daya tarik syahwat yang sangat kuat yang dapat menggoyahkan keimanan yang kokoh sekalipun. Terlebih bagi iman yang lemah yang tidak dibentengi dengan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri menyatakan di dalam hadits yang shahih bahwa fitnah yang paling besar yang paling ditakutkan atas kaum pria adalah fitnahnya wanita.

Sejarah sudah berbicara bahwa betapa banyak tokoh-tokoh legendaris dunia yang tidak beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala hancur karirnya hanya disebabkan bujuk rayu wanita. Dan berapa banyak persaudaraan di antara kaum Mukminin terputus hanya dikarenakan wanita. Berapa banyak seorang anak tega dan menelantarkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi kasus lainnya yang dapat membuktikan bahwa wanita model mereka ini memang pantas untuk tidak mendapatkan wanginya Surga.

Hanya dengan ucapan dan rayuan seorang wanita mampu menjerumuskan kaum pria ke dalam lembah dosa dan hina terlebih lagi jika mereka bersolek dan menampakkan di hadapan kaum pria. Tidak mengherankan lagi jika di sana-sini terjadi pelecehan terhadap kaum wanita, karena yang demikian adalah hasil perbuatan mereka sendiri.

Wahai saudariku Muslimah … . Hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang Islamy yang menyelamatkan kalian dari dosa di dunia ini dan adzab di akhirat kelak.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (Al Ahzab : 33)

Masih banyak sebab-sebab lainnya yang mengantarkan wanita menjadi mayoritas penduduk neraka. Tetapi kami hanya mencukupkan tiga sebab ini saja karena memang tiga model inilah yang sering kita dapati di dalam kehidupan masyarakat negeri kita ini.

Saudariku Muslimah … .

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menuntunkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari adzab neraka. Ketika beliau selesai khutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan anjuran untuk mentaati-Nya. Beliau pun bangkit mendatangi kaum wanita, beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian beliau bersabda :

“Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!” Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!” (HR. Bukhari)

Bershadaqahlah! Karena shadaqah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kalian dari adzab neraka. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kita dari adzabnya. Amin.

Wallahu A’lam bish Shawwab.

CATATAN: Tulisan ini hasil karya Sdri. MIFTAKHUN NURUL JANNATIN

WANITA MAYORITAS PENGHUNI NERAKA (bag 1)


“Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)

Hadits ini menjelaskan kepada kita apa yang disaksikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang penduduk Surga yang mayoritasnya adalah fuqara (para fakir miskin) dan neraka yang mayoritas penduduknya adalah wanita. Tetapi hadits ini tidak menjelaskan sebab-sebab yang mengantarkan mereka ke dalam neraka dan menjadi mayoritas penduduknya, namun disebutkan dalam hadits lainnya.

Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang , beliau shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Surga dan neraka. Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya radliyallahu 'anhum :

“ … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?” Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab : “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan tentang wanita penduduk neraka, beliau bersabda :

“ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu)

Dari Imran bin Husain dia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Imam Qurthubi rahimahullah mengomentari hadits di atas dengan pernyataannya : “Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari akhirat dikarenakan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.” (Jahannam Ahwaluha wa Ahluha halaman 29-30 dan At Tadzkirah halaman 369)

Saudariku Muslimah … .

Jika kita melihat keterangan dan hadits di atas dengan seksama, niscaya kita akan dapati beberapa sebab yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam neraka bahkan menjadi mayoritas penduduknya dan yang menyebabkan mereka menjadi golongan minoritas dari penghuni Surga.

Saudariku Muslimah … . Hindarilah sebab-sebab ini semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kita dari neraka. Amin.

1. Kufur Terhadap Suami dan Kebaikan-Kebaikannya

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan hal ini pada sabda beliau di atas tadi. Kekufuran model ini terlalu banyak kita dapati di tengah keluarga kaum Muslimin, yakni seorang istri yagn mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri sebagaimana kata pepatah, panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur terhadap apa yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan sang suami karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan melihat istri model begini sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :

“Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i di dalam Al Kubra dari Abdullah bin ‘Amr. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 76)

Hadits di atas adalah peringatan keras bagi para wanita Mukminah yang menginginkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan Surga-Nya. Maka tidak sepantasnya bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan.

Jika demikian keadaannya maka sungguh sangat cocok sekali jika wanita yang kufur terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai mayoritas kaum yang masuk ke dalam neraka walaupun mereka tidak kekal di dalamnya.

Cukup kiranya istri-istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabiyah sebagai suri tauladan bagi istri-istri kaum Mukminin dalam mensyukuri kebaikan-kebaikan yang diberikan suaminya kepadanya.

(BERSAMBUNG)



Sabtu, 13 Februari 2010

RENUNGAN HARIAN


Dari Abu Malik Al Harits bin 'Ashim Al Asy'ari RA, Rasulullah SAW bersabda: "Suci adalah sebagian dari iman, Alhamdulillah itu dapat memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah itu memenuhi atau memenuhi apa yang ada diantara langit dan bumi. Shalat itu adalah cahaya, Shadaqah itu adalah bukti iman, Shabar itu adalah pelita dan Al Qur'an itu adalah hujjah (argumentasi) terhadap apa yang kamu sukai ataupun terhadap apa yang tidak kamu sukai. Semua orang pada waktu pagi menjual dirinya, ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang membinasakan dirinya" (HR. Muslim)



Kamis, 11 Februari 2010

RASULULLAH PUN MENANGIS


Insan Kamil 10 Februari jam 19:09 Balas
Siang itu Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Rasulullah meninggalkan rumah untuk berkunjung ke rumah Rasulullah SAW. Semenjak menikah dengan Ali, Fatimah tidak lagi tinggal bersama Rasulullah. Maka sebagai pengobat rindu hati Fatimah dan Ali terhadap Rasulullah, mereka selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi sang ayah.

Namun pada kunjungan hari itu mereka mendapati Rasulullah tidak sebagaimana biasanya. Dari luar rumah terdengar suara tangisan Rasulullah yang menyayat hati. Ali dan Fatimah berhamburan masuk ke dalam rumah ingin segera mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Rasulullah.

Rasulullah sedang duduk termenung di dalam rumah. Tergurat kesedihan yang amat dalam di wajahnya. Air matanya terus meleleh membasahi kedua pipi yang putih bagaikan pualam. Sesuatu yang besar telah terjadi hingga Rasulullah menangis tiada henti.

“Assalamua’alika Ya Rasulallah… Apa yang telah terjadi…” tanya Ali.
“Wahai ayah, sesuatu apakah yang telah membuat ayah bersedih. Mengapa air mata ayah terus menetes?” sambung Fatimah.

Rasulullah memandang putri dan menantunya, lalu beliau berkata,
“Tadi malam ada seseorang yang mengajakku naik ke langit… Lalu membawaku ke suatu tempat yang sangat mengerikan. Jurang-jurang dalam yang dipenuhi dengan api yang berkobar… Lalu aku melihat orang-orang perempuan dari umatku yang disiksa dengan bermacam-macam siksaan. Begitu dahsyatnya siksaan itu hingga mereka menjerit-jerit kesakitan. Itulah sebabnya mengapa aku menangis seperti ini”. “Wahai anakku… Diantara siksaan itu, aku melihat perempuan-perempuan yang digantung dengan rambutnya lalu otaknya mendidih”.
“Kemudian aku melihat perempuan-perempuan yang digantung dengan lidahnya, lalu air panas mendidih dituangkan ke tenggorokannya”.
“Di sudut yang lain aku melihat perempuan-perempuan yang diikat kedua kakinya hingga puting payudaranya dan kedua tangannya diikatkan pada ubun-ubunnya, kemudian Allah memerintahkan ular-ular berbisa dan kalajengking untuk menggigit dan menyengat tubuh-tubuh mereka”.
“Tidak hanya itu. Ada lagi perempuan-perempuan yang digantung dengan kedua puting payudaranya”.
“Lalu aku lihat perempuan-perempuan berkepala babi namun tubuh mereka seperti keledai dan telah disiapkan untuk mereka satu juta macam siksaan yang lain”.
“Aku juga melihat perempuan-perempuan yang wajahnya seperti anjing, sedangkan api masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya, lalu malaikat memukul mereka dengan palu-palu dari api”.

Rasulullah diam. Sesekali beliau mengusap air mata yang membasahi pipinya. Lalu bertanyalah Fatimah, “Wahai Ayahku tercinta, Apakah yang telah diperbuat oleh perempuan-perempuan itu? Sehingga mereka harus menerima siksaan yang sangat mengerikan itu?”

Rasulullah menjelasakan, “Wahai putriku, perempuan-perempuan yang digantung dengan rambutnya itu adalah perempuan yang tidak mau menutup rambutnya dari laki-laki yang bukan mahram”. Dia malah bangga apabila ada laki-laki yang terpesona dengan keindahan rambutnya sehingga dia enggan mengenakan kerudung atau jilbab.
“Sedangkan perempuan-perempuan yang digantung dengan lidahnya adalah mereka yang mulutnya sering mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati suaminya”. Istri yang seharusnya bertutur kata yang baik, lemah lembut dan santun terhadap suami, ternyata malah sering melontarkan umpatan, celaan, hinaan dan kata-kata yang kasar. Maka itulah pembalasan yang setimpal dengan perbuatannya.

“Lalu perempuan-perempuan yang digantung dengan puting payudaranya itu adalah perempuan yang menyakiti suami di tempat tidur”. Dia suka menolak ajakan suami di tempat tidur dengan tanpa alasan yang jelas.

“Lalu kenapa dengan perempuan-perempuan yang kedua kakinya diikat hingga puting payudaranya dan tangannya sampai ubun-ubun, lalu tubuhnya digerogoti ular dan kalajengking itu Ya Rasulullah…” tanya Fatimah.
“Mereka adalah perempuan yang tidak mau segera mandi junub setelah suci dari haid dan suka melalaikan shalat” jawab Rasulullah

“Bagaimana dengan perempuan-perempuan yang berkepala babi dan bertubuh keledai? Kesalahan apa yang telah mereka lakukan?” tanya Fatimah.
“Wahai Fatimah, mereka adalah perempuan yang suka mengadu domba dan suka berbuat dusta”. Dia sebarkan berita-berita dusta untuk mengadu domba manusia.
“Sedangkan perempuan-perempuan yang yang bertubuh seperti seekor anjing, lalu api dimasukkan ke mulutnya dan keluar melalui duburnya adalah perempuan yang suka mengungkit ungkit pemberian dan suka dengki terhadap kenikmatan yang orang lain” jelas Rasulullah.

Fatimah dan Ali tertegun mendengar cerita yang merupakan kejadian nyata yang dilihat oleh Rasulullah dalam perjalanan Isra’ Mi’raj. Allah sengaja menunjukkan kejadian-kejadian itu kepada rasulNya agar menjadi peringatan bagi seluruh umat, khususnya orang-orang yang beriman.

Di akhir cerita Rasulullah berpesan kepada Fatimah, “Wahai anak perempuanku.. Celaka bagi seorang istri yang menentang pada suaminya” Hadits Riwayat Az Zawajir



Jumat, 29 Januari 2010

ADAB QIYAMUL-LAIL (SHALAT MALAM)


Qiyamul-lail atau shalat malam merupakan ibadah yang agung dan mulia. Ia menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT bagi orang-orang shalih. Berikut ini beberapa adab qiyamul-lail sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW :

1. NIAT IKHLAS
Qiyamul-lail adalah ibadah yang disenangi oleh Allah, maka hendaknya seorang muslim mengikhlaskan niatnya untuk mencari keridhaan Allah. Jadikan Qiyamul-lail sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bermunajat di altar rakhmat-Nya dan memohon kemuliaan dari-Nya.

2. TIDAK MENGKHUSUSKAN MALAM JUM'AT
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kamu mengkhususkan malam jum'at dari malam-malam yang lain, untuk melakukan ibadah" (HR. Muslim).

3. MENGGOSOK GIGI
Dari Hudzaifah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa membersihkan giginya dengan siwak saat melaksanakan shalat malam (HR. Bukhari dan Muslim).

4. MENGAJAK KELUARGA DAN BERJAMAAH
Rasulullah SAW bersabda: "Allah mengasihi seorang laki-laki yang (bangun) melaksanakan shalat malam, kemudian membangunkan istrinya dan (istrinya) juga melaksanakan shalat.." (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Nasa'i).

5. MEMULAI DENGAN DUA RAKAAT YANG RINGAN
Dari 'Aisyah RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW jika melaksanakan shalat malam senantiasa membukanya dengan dua rakaat yang ringan (HR. Muslim).

6. DUA RAKAAT-DUA RAKAAT
Rasulullah SAW bersabda: "Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika salah seorang kamu khawatir masuknya waktu shubuh, shalatlah satu rakaat sebagai witir dari shalat malam yang telah dilakukannya" (HR. Bukhari dan Muslim).

7. MEMANJANGKAN SHALAT
Dari Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda: "Shalat (malam) yang paling baik adalah yang panjang qunutnya" (HR. Muslim). Imam Nawawi mengatakan, yang dimaksud dengan qunut dalam hadist ini adalah berdiri.

8. JIKA SANGAT MENGANTUK TIDURLAH
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Siapapun diantara kamu yang melaksanakan shalat malam, kemudian tidak jelas bagian bacaan Al-Qur'an (karena mengantuk) hingga tidak menyadari apa yang dia baca, maka hendaklah dia membaringkan diri (tidur) (HR. Muslim).

9. MENGAKHIRI DENGAN WITIR
Rasulullah SAW bersabda: "Jadikanlah witir sebagai penutup shalat malammu" (HR. Bukhari dan Muslim).

10. SEMALAM HANYA SEKALI WITIR
Dari Thalaq bin Ali, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada dua witir dalam satu malam" (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i, Tirmidzi dan meng-hasan-kannya).

11. MENG-QADHA (MENGGANTI) QIYAMUL-LAIL
Bila tidak bisa melaksanakan qiyamul-lail karena tertidur, sakit atau lainnya, maka diperbolehkan menggantinya di siang hari pada waktu dhuha sebanyak 12 rakaat. Pengertiannya bukan mengganti dengan shalat dhuha. Dari 'Aisyah RA meriwayatkan: "Jika Nabi tertidur atau sakit hingga tidak melaksanakan shalat malam, maka dia melaksanakannya pada siang hari sebanyak dua belas rakaat" (HR. Muslim).

12. ISTIQAMAH
Rasulullah SAW bersabda kepada Abdullah bin Umar : "Wahai Abdullah, jangan seperti si Fulan, dulu dia terbiasa melakukan shalat malam tapi kemudian dia tinggalkan" (HR. Bukhari dan Muslim).

CATATAN
Tulisan ini saya kutip dari majalah Hidayatullah edisi 05/XIX/september 2006. Jika dirasa ada gunanya silahkan dibagikan guna kepentingan syiar. Semoga Allah memberi hidayah dan barokah kepada kita semua. Amin.

Selasa, 26 Januari 2010

KEUTAMAAN BEKERJA


Rasulullah SAW bersabda: "Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll.) (HR. Ath-Thabrani dan Baihaqi).

Dari Az-Zubair bin Al-Awwam, Rasulullah SAW bersabda: "Seseorang yang membawa tali temali lalu kembali dengan membawa seikat kayu bakar di punggungnya, kemudian menjualnya seraya menjaga kehormatan diri adalah lebih baik ketimbang meminta-minta kepada orang lain, baik diberi ataupun tidak" (HR. Bukhari dan Muslim).


Rasulullah SAW bersabda: "Seseorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya, maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak" (HR. Bukhari dan Muslim).


Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah mencintai orang yang kaya, penyantun, dan menjaga kehormatan diri. Dia membenci orang yang perkataannya keji, durhaka, dan meminta-minta dengan cara memaksa" (HR. Al-Bazzar).

Rasulullah SAW bersabda: "Pengangguran itu menyebabkan hati keras (keji dan membeku) (HR. Asy-Syihaab).

Riwayat/sejarah : Pada masa Rasulullah ada seseorang yang datang kepadanya meminta sedekah untuk diri dan keluarga yang menjadi tanggungannya. Rasulullah tidak langsung memberinya, tapi beliau bertanya: "Apakah saudara masih mempunyai sesuatu di rumah ?". "Ada tempat air untuk minum keluarga dan beberapa lembar selimut tebal untuk menahan dingin" jawabnya. Rasulullah memerintahkan orang tersebut untuk membawa barang-barangnya, kemudian beliau melelangnya. Hasil penjualannya dua dirham, satu dirham dibelanjakan makanan untuk keluarganya dan satu dirham lagi digunakan untuk membeli kapak. Rasulullah sendiri membuatkan gagang kapak dari kayu, dan bersabda: "Pergilah mencari kayu dan jangan menampakkan wajahmu kepadaku kecuali sesudah lima belas hari". Sesudah lima belas hari, lelaki itu datang menghadap Rasulullah dengan membawa uang sebesar lima belas dirham, sisa yang telah dibelanjakan untuk kebutuhan hidup keluarganya. Jika pada saat meminta sedekah wajahnya suram dan tidak berpengharapan, kini dia menghadap dengan wajah yang cerah dan penuh percaya diri. Melihat hal ini Rasulullah tersenyum, kemudian beliau bersabda: "Ini lebih baik bagimu dari pada kamu kelak datang pada hari kiamat dan bayangan meminta-minta tergambar pada wajahmu".

Jumat, 22 Januari 2010

PERMUSUHAN TERHADAP ORANG ISLAM


Allah berfirman, artinya: "Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji" (QS. Al-Buruuj: 8).

Allah berfirman, artinya: "Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari (kalangan) orang-orang berdosa. Dan cukuplah Rabb mu menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong" (QS. Al-Furqaan: 31).


Allah berfirman, artinya: "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dipersiapkan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan) (QS. Al-Anfaal: 60).


CATATAN: Dari fakta sejarah dan sebagaimana tertulis dalam Al-Qur'an maka akan selalu ada orang-orang yang tidak senang terhadap umat islam. Sejarah mencatat begitu banyak tragedi kemanusiaan yang menyebabkan umat islam terbantai/terbunuh. Sebagai contoh kita tahu tragedi kemanusiaan yang menimbulkan banyak korban umat islam seperti yang terjadi di Bosnia, Palestina, Pattaya (Thailand) dll. Dalam skala lokal kita mengalami tragedi Tanjung Priok, Ambon, Poso dll. Semua tragedi ini adalah ketentuan/sunatullah sebagaimana yang telah difirmankan Allah dalam surat Al-Buruuj : 8 dan surat Al-Furqaan: 31. Bagi orang-orang yang berusaha menegakkan ajaran Allah dan mengikuti ajaran Rasulullah SAW, maka akan banyak menghadapi rintangan dan musuh yang menghadang. Masalahnya bagaimana kita bersikap ? Allah telah memberi petunjuk sebagaimana firman-Nya dalam Qs Al-Anfaal: 60. Kita harus punya kekuatan dan siap membela sesama muslim yang teraniaya. Kekuatan yang kita butuhkan meliputi bidang ekonomi, iptek, budaya dan pertahanan dan keamanan (HANKAM). Yang tak kalah pentingnya ialah kita mesti bersatu, jangan ibarat buih dipermukaan air.

Jumat, 15 Januari 2010

PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW


PENGANTAR :
Tidak bermaksud tendensius dan bukan sebagai bahan polemik, tulisan ini saya kemukakan sebagai fakta sejarah buat kita ketahui dan jadi renungan bersama. Ulasan sejarah ini saya edit dari Sejarah Perang Salib yang di muat majalah Hidayatullah edisi 8/XVII/Des 2004. Sebagaimana biasa pada akhir tulisan saya buatkan catatan, selamat membaca !.

ULASAN SEJARAH :
Kisah ini berawal pada Perang Salib III (1187 - 1191). Pada masa itu kekhalifahan islam terpecah menjadi dua, yaitu Dinasti Fathimiyah di Kairo (bermazhab Syi'ah) dan Dinasti Seljuk (bermazhab Sunni). Kondisi ini membuat Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima perang Dinasti Fathimiyah, merasa prihatin. Menurutnya islam harus bersatu untuk melawan Eropa - Kristen yang juga bahu - membahu. Melalui serangkaian lobi, akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menyatukan kedua kubu dengan damai. Kenyataan lain yang dihadapi pada waktu itu adalah perilaku kaum muslimin yang tampak "loyo" dan tidak punya semangat jihad. Mereka dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Spirit perjuangan yang pernah dimiliki tokoh - tokoh terdahulu tidak lagi membekas dihati.

Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Tujuan peringatan Maulid ini untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Dalam festival ini dikaji habis - habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai - nilai jihad.
Festival ini berlangsung dua bulan berturut - turut dan hasilnya luar biasa. Banyak pemuda muslim yang mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestina. Mereka siap mengikuti pendidikan kemiliteran. Shalahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri para pemuda dari berbagai negeri islam. Sejarah telah mencatat bahwa pasukan ini berhasil mengalahkan pasukan salib di Hittin (dekat Acre yang kini dikuasai Israel) pada 4 juli 1187. Pasukan kristen bahkan akhirnya terdesak dan terkurung di Baitul Maqdis.

CATATAN :
Terlepas dari pro dan kontra tentang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, marilah kita petik hikmah dari sejarah Shalahuddin Al-Ayyubi yang menggagas peringatan maulid pada waktu itu. Guna untuk tujuan konsolidasi, merapatkan barisan sesama umat islam dan menangkal serangan musuh maka diadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bagaimana relevansinya dengan keadaan kita sekarang ini ?. Musuh islam tidak hanya terang-terangan menyerang secara fisik, sebagaimana terjadi di Iraq dan Afghanistan, tapi juga menyerang/menyusup dalam bidang kebudayaan, ekonomi dan iptek. Dalam bidang kebudayaan bisa kita saksikan dari budaya pornografi, individualis dsb. Ironisnya hal ini banyak ditiru oleh orang-orang kita yang nota bene orang islam. Pola-pola pikir yang tidak islami dengan gampangnya dipertontonkan dihadapan kita, malah banyak didukung oleh orang-orang islam liberal. Dalam bidang iptek dan ekonomi, kita semua sudah tahu siapa yang mendominasi. Kita sebagai orang islam hanya bisa menjadi konsumennya. Mengingat hal ini semua, alangkah baiknya tiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW digunakan sebagai ajang konsolidasi dan merapatkan barisan sesama umat islam. Bukankah kita telah mencanangkan bahwa abad ke 15 H sebagai abad kebangkitan islam ? Mari jadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momen ajang renungan dan evaluasi terhadap niat kita untuk mencapai kejayaan islam kembali. Jadikan momen ini untuk memberi pencerahan bagi kita semua sehingga tidak ada peluang buat aliran sesat atau anggapan bahwa islam adalah agama kekerasan (teror).


DIALOG ABU HURAIRAH KETIKA DI PASAR

Suatu hari Abu Hurairah melewati pasar Madinah. Saat itu suasana pasar sedang ramai. Para penjual menjajakan dagangannya dan para pembeli berlalu lalang mencari barang yang diinginkannya. Abu Hurairah tersenyum melihat kesibukan mereka, lalu menghampiri sekelompok orang dan berkata: "Alangkah sibuknya kalian wahai penduduk Madinah".
Beberapa orang yang mengenal dan mendengar sapaan Abu Hurairah menimpali: "Bagaimana pendapat anda tentang kesibukan kami ini, wahai Abu Hurairah ?".
"Sayang sekali kalian ramai-ramai berada di sini, padahal Rasulullah SAW sekarang sedang membagikan harta yang paling berharga. Mengapa kalian tidak ingin ikut mengambilnya?" tanya Abu Hurairah.
"Dimana, wahai Abu Hurairah" tanya salah seorang dari mereka.
"Di sana. Di masjid" jawab Abu Hurairah sambil menunjuk ke satu arah.
Mereka yang mendengar ucapan Abu Hurairah segera pergi ke masjid, sedangkan Abu Hurairah sendiri tetap berdiri di tempaynya. Setelah beberapa saat, orang-orang itu kembali ke pasar menemui Abu Hurairah. Nampakkekecewaan di wajah mereka.
"Wahai Abu Hurairah, kami datang ke masjid. Kami masuk ke dalam, tapi tidak melihat ada yang membagikan sesuatu" ujar mereka
"Apakah kalian tidak melihat orang banyak ?" tanya Abu Hurairah.
"Ya, kami melihat banyak orang. Ada yang sedang shalat, ada juga yang membaca al-Qur'an".
"Apakah kalian tidak melihat sekerumunan orang yang sedang mengelilingi Rasulullah SAW ?" tanya Abu Hurairah.
"Ya, kami melihat mereka"
"Orang-orang itu sedang duduk mengitari Rasulullah SAW yang sedang membagikan harta yang tak ternilai harganya. Rasulullah SAW membagikan ilmunya kepada mereka. Bukankah ilmu adalah harta yang sangat mahal." ujar Abu Hurairah.
Orang - orang itu hanya bisa terdiam mendengar pemaparan Abu Hurairah. Mereka tidak marah, karena apa yang di ucapkan Abu Hurairah adalah benar.

Sumber : SABILI, No. 22, 2003.